Let's Learn English

Belajar Bahasa Inggris Jadi Menyenangkan Bersama Fun Dora

Bersama Fun Dora, Bahasa Inggris anda berada di dalam genggaman.

Olimpiade Guru Nasional

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) menjadi salah satu wadah para pendidik melebarkan sayap untuk merdeka belajar.

Generasi Digital (Industri 4.0)

Kini, pembelajaran berbasis TIK bukan sekadar pelengkap, tapi telah menjadi satu jiwa dengan proses belajar mengajar itu sendiri.

Pembelajaran Abad 21

Mari menciptakan atmosfer kelas yang berpusat pada peserta didik.

Rumah Belajar

Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Jumat, 29 September 2023

SIMPLE PRESENT TENSE

 




Simple Present Tense adalah bentuk kalimat yang digunakan untuk menyatakan kejadian atau kegiatan di masa sekarang atau sesuatu yang berupa fakta seperti ciri fisik hewan secara umum (burung memiliki sayap, ikan bernapas dengan insang, dll).

Bentuk kalimat Simple Present Tense ada dua tipe yakni Nominal Sentence dan Verbal Sentence.


1. Nominal Sentences

Nominal Sentence adalah kalimat yang tidak menggunakan kata kerja (verb), posisi kata kerja tersebut digantikan oleh kata kerja bantu (verb to be). Terdapat tiga pola kalimat di dalamnya, yaitu:


  • Affirmative sentence



  • Negative sentence



  • Interrogative sentence


How to answer:

1.      Am I happy?

(+) Yes, you are.

(-) No, you aren’t (are not).

2.      Are you at school?

(+) Yes, I am.

(-) No, I am not.

3.      Is she a doctor?

(+)Yes, she is.

(-) No, she isn’t (is not).

2. Verbal Sentences

Jenis kalimat ini digunakan apabila kalimat yang dibentuk sempurna atau memiliki kata kerja, sehingga tidak membutuhkan kata kerja bantu. Terdapat tiga pola kalimat di dalamnya, yaitu:

  • Affirmative sentence

  • Negative sentence

  • Interrogative sentence

How to answer:

1.      Do you bring my book?

(+) Yes, I do.

(-) No, I don’t (do not).


2.      Does he make a cake?

(+) Yes, he does.

(-) No, he doesn’t (does not).


Let's Practice!

A. Connect these sentences correctly.

1. He . . . . a student. He is a teacher.                      A. Is

2. I  . . . . hungry.                                                     B. Are 

3. . . . .  it red?                                                         C. Is not

4. They . . . . in a class.                                            D. Am


B. Fill these sentences in the correct words.

1. I . . . . . math every Monday. (study)

2. He . . . . . . a cup of milk every morning. (drink)

3. You . . . . . have a car. (not have)






Kamis, 21 September 2023

Offering Something


 



"Apakah kamu mau sepotong roti untuk sarapan?"

Bagaimana responmu ketika seseorang menawarkan sesuatu padamu? Bagaimana cara kamu meresponnya jika setuju atau menolak tawaran dengan sopan?

Biasanya hal-hal tersebut akan berkaitan dengan sesuatu yang kalian suka atau tidak suka.

Dalam Bahasa Inggris kita biasa menyebutnya offering, yang merupakan sebuah kalimat tawaran. Berikut beberapa hal yang bisa kita pelajari dari offering expression


👉 Offer something:

  • Would you like a cup of tea? (Apakah Anda mau secangkir teh?)
  • Would you like an apple? (Apakah Anda mau sebuah apel?)
  • Would you like some help? (Apakah Anda membutuhkan bantuan?)
  • May I help you? (Dapatkah saya membantu Anda?)
  • May I offer my assistance? (Bolehkah saya menawarkan bantuan saya?)
  • Could I help you? (Bisakah saya membantu Anda?)
  • What shall I do for you? (Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?)

👉 Accept an offer:
  • How kind of you! Thank you very much. (Betapa baiknya Anda! Terima kasih banyak.)
  • That’s very good of you. (Anda sangat baik.)
  • Yes, please do. (Ya, silahkan.)
  • What a good idea! (Ide yang luar biasa.)
  • Thanks. That would be excellent. (Terima kasih. Itu akan sangat luar biasa.)
👉 Refuse an offer:
  • No, you don’t need to. (Tidak, Anda tidak perlu melakukannya.)
  • Don’t bother yourself, thanks. (Jangan merepotkan dirimu, terima kasih.)
  • No, thank you. (Tidak, terima kasih.)
  • That’s very kind, but I can manage myself. (Itu sangat baik, tapi saya bisa menyelesaikannya sendiri.)
  • That’s very kind of you, but I don’t think it’s necessary.(Itu sangat baik, tapi menurutku itu tidak perlu)

Sabtu, 15 April 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
INTAN WIDORA
CGP ANGKATAN 7 KABUPATEN PRINGSEWU



Ing Ngarso Sung Thulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani adalah sebuah f
ilosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan untuk menjadi dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Karena sejatinya pendidik adalah penuntun kodrat anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya. Hal tersebut dilakukan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Makna kata “Penuntun”, dapat dipahami sebagai “Pemimpin Pembelajaran”, yang berpusat pada murid.

Berlandaskan filosofi tersebut niscaya akan ada perubahan positif pada makna Budi Pekerti. Dalam hal ini Budi (cipta, rasa, karsa) dan Pekerti (tenaga/raga). Keduanya harus seimbang dan menyeluruh. Semua disiplin ilmu dan pengambllan keputusan harus menuju pada makna kebijaksanaan. Menurut KHD, " Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak", artinya semua yang kita lakukan di bidang pendidikan harus berorientasi kepada murid.

"Pendidikan itu harus memerdekakan"
Memerdekakan sebuah pendidikan bisa dilihat dari bagaimana pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak pada murid. Hal tersebut akan menjadi tauladan bagi murid-murid untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

Nilai-nilai yang dimiliki seorang guru adalah nilai kebajikan, seperti keadilan, tanggung Jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Menerapkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diimplementasikan oleh murid kita.

Sebagai Calon Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Untuk dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab diperlukan prosedur dan pendekatan sehingga keputusan tersebut  berorientasi pada kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk mengantarkan murid untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada dalam menyikapi sebuah permasalahan. Pertanyaan berbobot yang diberikan Coach dapat membuat murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee sebuah alur TIRTA.

Alur TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. ModelTIRTA dikembangkan dari Model GROW. 
GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.
  • Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
  • Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
  • Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
  • Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

TIRTA akronim dari :
  • T : Tujuan
  • I : Identifikasi
  • R : Rencana aksi
  • TA: Tanggung jawab

Jika kita lihat lagi salah satu pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang peran utama guru adalah seorang pamong, maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Alur TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak.

Lebih jauh lagi, diperlukan adanya kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).

Ketika proses pengambilan keputusan, diperlukan kesadaran penuh (mindfulness). Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa di dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stres, dan munculnya perasaan tenang dan stabil (Kabat-Zinn, 2013, hal. 37).

Sebagai seorang pendidik atau pemimpin pembelajaran kita sering bertemu pada suatu keadaan di mana kita harus mengambil sebuah keputusan dilematis. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya kita bertemu dengan kasus bujukan moral.

Karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip seseoran. Inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Ketika pemimpin pembelajaran berhadapan dengan kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, maka nilai-nilai diri yang dianut akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid, tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak .

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran. 

Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita bisa menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. 

Sebagai upaya pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat juga dilakukan dengan bebrapa tahap berikut seperti mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang sesui dari suatu kasus, memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan, dan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika.

Perubahan tidak dapat dibangun secara singkat, namun ada proses yang harus dilalui dan dikerjakan agar terwujud. Perlu adanya sosialisasi dan komunikasi secara persuasif secara terus-menerus agar lingkungan yang masih menggunakan paradigma lama akan memiliki pemahaman baru dan mampu beradaptasi dengan adanya perubahan. Pengambilan keputusan atas adanya perubahan maka perlu dilakukan dari hal kecil agar menjadi kebiasaan dan budaya positif dalam lingkungan tersebut. Dengan berdasarkan pada visi dan misi serta tujuan sekolah, maka akan mencapai perubahan yang dapat diterima oleh lingkungan atau warga sekolah. 

Selain itu tantangan juga muncul tentang pengalaman kegagalan mengambil keputusan di masa lalu. Kekhawatiran jika keputusan yang diambil justru berdampak tidak baik (merugikan) bagi sebagian besar suatu pihak.

"Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan transformasional, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" (Nadiem Makarim, 2020)

Merdeka belajar merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang dia miliki. sebagai pemimpin pembelajaran tentunya sudah memahami pokok-pokok atas perubahan yang salah satunya pembelajaran berpihak pada murid, sehingga seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan pengambilan keputusan mampu memfasilitasi dan memerdekakan murid dalam proses pembelajaran di sekolah. 

Selain itu kita juga perlu menyadari bahwa karakteristik anak yang berbeda perlu kita pertimbangakn dalam memutuskan pembelajaran yang tepat sesuai denga kebutuhan dan minat mereka dalam proses yang berdiferensiasi.

Guru adalah pemimpin pembelajaran sebagai pamong yang diibaratkan seorang petani yang menyemai benih. Benih tersebut dapat tumbuh subur apabila dirawat, dan dijaga dengan baik. Demikian juga dengan murid, seorang guru bertanggungjawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki murid sebagaimana petani yang menyemai benih untuk mendapatkan hasil yang baik sehingga setiap keputusan guru akan berpengaruh pada masa depan murid.  
Keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan mecerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. 

Kesimpulan yang bisa saya ambil dalam hal ini adalah:
  • Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada BUDI PEKERTI anak. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. Semua disiplin ilmu dan pengambilan keputun harus menuju kepada KEBIJAKSANAAN.
  • Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
  • Diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).
  • Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). 
  • Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila. 
  • Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah
  • Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.
Sejauh pemahaman di modul 3.1 ini, saya pribadi banyak belajar tentang 4 paradigma, 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan, serta menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil. Hal diluar dugaan yang saya alami adalah ternyata ada perbedaan jelas antara dilema etika dan bujukan moral dalam sebuah pengambilan keputusan.

Sebelum mempelajari modul ini, saya beberapa kali mengambil sebuah keputusan yang menjadi dilema. Setelah saya mengetahui pemaparan dalam modul ini, saya menyadari bahwa ada beberapa paradigma dan prinsip pengambilan keputusan yang pernah saya implementasikan.

Setelah mempelajari modul ini, tentu pengambilan keputusan saya lebih tersusun dan prosedural dengan menggunakan 9 langkah yang sudah dijabarkan. Oleh karena itu, dengan memahami isi modul ini, menjadi sangat penting dalam pendalaman teori pengambilan keputusan yang bertanggung jawab agar apa yang kita yakini sudah sesuai dengan jalurnya.

Sabtu, 21 Januari 2023






INTAN WIDORA


CGP. ANGKATAN 7

UPT SMPN 1 SUKOHARJO

KABUPATEN PRINGSEWU - LAMPUNG



📌LATAR BELAKANG


Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan adalah wadah dimana anak dituntun sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman mereka. Melalui pendidikan, anak diharapkan bisa berkembang dengan wawasan global yang baik tanpa harus kehilangan jati diri budaya daerahnya.

Sebagai bentuk dukungan dari pemikiran Kihajar Dewantara, sekolah menjadi komunitas lingkungan masyarakat yang akrab dengan anak untuk menerapkan budaya positif. Seperti yang kita alami selama ini, budaya baik atau positif yang diterapkan di sekolah masih berdasarkan motivasi eksternal untuk melakukannya. Pemahaman bahwa anak disiplin akan peraturan adalah tujuan baik dalam pendidikan, pemberlakuan posisi kontrol yang tidak pada porsinya, serta kurangnya implementasi segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah masih menjadi tugas kita bersama untuk mengarahkannya pada hal yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal.

Guru dan seluruh stakeholder memiliki peran penting dalam terbudayakannya hal-hal positif di dalam sekolah. Dengan harapan tumbuhnya disiplin positif pada diri anak karena motivasi internal yang terbangun atas teladan, pendekatan, dan contoh yang diberikan oleh pamong mereka.

Oleh karena itu, kegiatan aksi nyata ini bukan semata alasan utama saya untuk melakukan diseminasi ini, namun lebih prinsipal untuk berbagi hal baik dalam penerapan budaya positif seperti disiplin positif dan nilai kebajikan universal, motivasi, hukuman, penghargaan, restitusi (Posisi Kontrol dan Segitiga Restitusi), keyakinan kelas, dan 5 kebutuhan dasar manusia.


Jadi kegiatan ini sangat diyakini akan bersinergi dalam Profil Pelajar Pancasila yaitu Beriman Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Berkebinekaan Global, Bergotong Royong, dan Kreatif sesuai dengan visi UPT SMPN 1 Sukoharjo yakni "Maju Prestasi berdasarkan Iman dan Taqwa, Berbudaya Lingkungan, dan Berwawasan Global". 


📌TUJUAN

Melalui diseminasi pemahaman budaya positif yang dilakukan pada rekan guru dan stakeholder di UPT SMPN 1 Sukoharjo, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai diantaranya:

1.    Mengejawantahkan perubahan paradigma Budaya Positif di lingkungan sekolah.

2.    Mewujudkan visi sekolah sesuai cita-cita bersama. 

3.    Menumbuhkan Budaya Positif disekolah dengan meyakini nilai-nilai Kebajikan Universal dengan pendidikan yang berpihak pada murid.


📌TOLOK UKUR

Kegiatan diseminasi ini bisa diukur kemajuan atau keberhasilannya melalui:

  • Terbudayakannya nilai-nilai positif dalam lingkungan sekolah
  • Terbentuknya keyakinan kelas di setiap rom-bel yang dibentuk dan disepakati oleh siswa dan guru / wali kelas.
  • Terpasangnya sebuah keyakinan kelas di ruang kelas masing-masing dengan menerapkan segitiga restitusi saat diperlukan.
  • Terwujudnya karakter budi pekerti baik dalam diri siswa.
  • Terwujudnya kerja sama yang baik antar rekan guru dalam melaksanakan visi misi sekolah.


📌LINIMASA TINDAKAN

Tindakan yang dilakukan dalam diseminasi ini antara lain:

  • Audiensi dengan Kepala Sekolah untuk menjelaskan pentingnya Budaya Positif dan Keyakinan Kelas disekolah, serta meminta dukungan untuk melakukan diseminasi Budaya Positif di Sekolah.
  • Mengundang  Kepala Sekolah, wakil Kepala Sekolah, perwakilan guru dari setiap mata pelajaran, serta seluruh guru Bimbingan Konseling untuk mendapatkan diseminasi pemahaman materi Budaya Positif. Kegiatan ini dilakukan pada Hari Rabu, 18 Januari 2023 di Lab. Komputer UPT SMP 1 Sukoharjo, Pringsewu, Lampung.
  • Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk membuat Keyakinan Kelas, dikelas masing-masing.
  • Bersama membuat aktivitas budaya positif yang sudah dan belum dilakukan dalam lembaran sticky notes yang dibagikan, kemudian merefleksi dan mengevaluasi Keyakinan Kelas yang telah dibuat.


📌DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Dalam diseminasi modul 1.4 yang dilaksanakan di UPT SMPN 1 Sukoharjo, dibutuhkan dukungan dari:

  • Kepala sekolah dalam memberikan dukungan terlaksananya aksi nyata
  • Orang tua untuk membantu mendukung program kegiatan budaya positif
  • Rekan sejawat
  • Seluruh siswa


📌DESKRIPSI AKSI NYATA

Pada hari Senin, 9 Januari 2023, saya melakukan koordinasi dan audiensi dengan Kepala Sekolah untuk meminta dukungan dalam rencana diseminasi Budaya Positif, serta menjelaskan pentingnya Budaya Positif dan Keyakinan Kelas disekolah untuk mewujudkan visi sekolah. 

Kepala Sekolah menyambut baik rencana aksi nyata yang akan dilakukan dengan memberika fasilitas sekolah dan waktu untuk diseminasi dengan rekan guru lainnya.

Kemudian saya berkoordinasi dengan rekan CGP lainnya serta Pengajar Praktik untuk memaksimalkan apa yang akan diberikan kepada rekan guru pada saat diseminasi.

Setelah materi siap, agenda diseminasi pun dibuat pada hari Rabu, 18 Januari 2023, di laboratorium komputer UPT SMP Negeri 1 Sukoharjo, dengan durasi waktu dari jam 09.15 - 10.50 WIB.

Acara Diseminasi dihadiri Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, perwakilan guru dari setiap mata pelajaran, dan seluruh guru BK. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bapak Joko Suswanto selaku kepala sekolah sebagai bentuk dukungan penuh atas kegiatan Program Guru Penggerak. Kegiatan berjalan lancar dan menarik dengan selingan ice breaking, game, diskusi, dan penjelasan materi yang telah disiapkan sebelumnya.

Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah sepakat membuat keyakinan kelas dan berkomitmen untuk mengimplementasikan budaya positif di lingkungan sekolah.


📌HASIL AKSI NYATA

Hasil Aksi Nyata Budaya Positif - Modul 1.4, di UPT SMPN 1 Sukoharjo telah memberikan pemahaman paradigma baru kepada guru dan tenaga kependidikan mengenai Budaya Positif. Penyamaan persepsi ini, menjadikan para peserta diseminasi antusias dan berkomitmen untuk bersama mewujudkan budaya positif di sekolah. Hasil yang diharapkan tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun dengan kerja sama dan komitmen bersama untuk merubah kebiasaan dan pemahaman tentang disiplin positif, hukuman, penghargaan, kebutuhan dasar, motivasi, peran kontrol, serta segitiga restitusi akan menjadi mudah dan bisa diwujudkan dengan memberi contoh dalam nilai-nilai kebajikan. Hal-hal ini tercermin dari:

  • Terbudayakannya karakter religius yang ditunjukkan dengan pembiasaan membaca kitab suci 15 menit sebelum pembelajaran di mulai, dan sholat dzuhur berjama’ah.
  • Tercerminnya karakter peduli lingkungan dalam kegiatan Jumat bersih.
  • Tercerminnya karakter peduli kesehatan jasmani dalam kegiatan Jumat sehat.
  • Tercerminnya karakter religius dalam kegiatan Jumat religi.
  • Terwujudnya karakter dalam Profil Pelajar Pancasila baik dalam kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan P5.
  • Tercerminnya karakter gotong royong dalam mewujudkan budaya positif.
  • Terbudayakannya karakter disiplin yang di tunjukan dengan pembiasaan 5S ( senyum, salam , sapa , sopan dan santun ) memyambut siswa di depan gerbang.
  • Terbudayakannya cinta lingkungan dengan tidak menggunakan plastik dalam jajan pangan di kantin sekolah.

Hasil aksi nyata lainnya yang terukur jelas adalah dipasangnya keyakinan kelas di dinding ruang kelas. Kesepakatan kelas ini dibuat bersama antara siswa dan wali kelas demi terwujudnya budaya positif dalam lingkungan pembelajaran.

Guru juga mulai menerapkan segitiga restitusi dengan mencoba konsisten berada pada posisi kontrol pemantau atau manager.


📌REFLEKSI

Dalam pelaksanaan kegiatan diseminasi ini, saya sangat beruntung karena mendapatkan dukungan dari semua pihak, mulai dari  Kepala Sekolah, rekan guru dan seluruh siswa. 

Antusiasme rekan guru terlihat pada saat proses penyampaian materi terhadap paradigma baru yang mereka terima dan ingin terus belajar lebih banyak lagi. Para guru menemukan banyak hal baru yang sebelumnya dianggap benar, namun ternyata banyak tidak tepat untuk dilakukan. Hal ini tercermin dari diskusi aktif dan curahan hati dari para guru yang ikut dalam diseminasi ini.

Kelemahan yang saya temui adalah beberapa guru terutama guru BK, masih menemui beberapa siswa yang tidak bisa diberlakukan posisi kontrol mana pun untuk memperbaiki disiplin atau karakternya yang tidak sesuai. Sehingga terkadang hukuman / konsekwensi logis masih diterapkan sebagai pilihan terakhir meski sangat jarang sekali.

Minggu, 06 November 2022

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

 



Murid atau anak bisa digambarkan sebagai kertas putih yang belum ada coretan sama sekali. Artinya dalam proses perjalanan hidupnya, lingkungan sekitar yang memberi peran tentang bagaimana warna dan bentuk coretan itu di atas kertas.

Namun, setelah saya mempelajari Modul 1.1, saya tersadar bahwa murid atau anak sejatinya tidak benar-benar seperti kertas kosong. 

Dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya tertarik dengan teori kovergensi yang terdiri dari gabungan dua hal yakni teori tabularasa (kertas kosong), dan teori negatif (kertas berisi coretan). 

Artinya, murid atau anak itu sendiri sudah membawa coretan 'samar' sejak mereka lahir. Coretan samar itu adalah watak atau karakter yang memang sudah melekat dalam kodrat diri mereka.

Jika dilihat dari teori Konvergensi Ki Hajar Dewantara, sosio-kultural menjadi proses ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Dimana, kita sebagai pendidik harus bisa mengarahkan hal-hal positif agar karakter dan watak positif si anak yang paling kuat muncul dibanding waktak dan karakter negatifnya.

Selain itu, melalui filosofi Ki Hajar Dewantara pendidikan harus humanis dengan sistem kerakyatan dan kebangsaan seperti Among; Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Berdasarkan pemikiran tersebut, kita sebagai pendidik harus menghindari sistem pendidikan deskriminasi dalam pembelajaran. Menjadikan peserta didik sebagai manusia secara utuh jasmani dan rohani, adalah sebuah hal yang perlu kita renungi dan praktikan. Karena manusia yang merdeka adalah yang dapat memerintah dan menguasai dirinya dengan kodrat.

Pendidik adalah seorang penuntun agar tumbuh kembang anak bisa sesuai kodratnya. Pendidik tidak menentukan dasar hidup dan tumbuhnya peserta didik tersebut. 

Saya pribadi menyadari terkadang masih melakukan praktik yang tak sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Seperti beberapa kali tidak menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas, serta memberikan hukuman bukan konsekuensi logis.

Namun, saya pribadi juga sering memberikan ruang dan wadah bagi peserta didik yang memiliki potensi di bidang tertentu untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Menjadi lebih dekat dengan peserta didik dengan mengikuti cara mereka sesuai zaman saat ini.

Sebagai seorang pendidik, saya berkeinginan untuk menjadi sosok yang selalu dirindukan kehadirannya di dalam kelas, mampu menjadi fasilitator peserta didik dalam mengembangkan minat dan kebutuhan belajar mereka. Saya berharap bisa melihat peserta didik saya belajar dengan bahagia dan selamat.

Saya telah dan akan selalu menerapkan hal-hal yang senantiasa menuntun peserta didik agar mampu menumbuhkan potensinya, dan baik adabnya dalam kehidupan bermasyarakat kelak. 

Hal-hal tersebut antara lain:
  1. Memberi pembelajaran yang berpihak pada murid
  2. Memberi ruang anak untuk mengembangkan bakat dalam ekstrakurikuler
  3. Memberi akses anak dalam dunia seni agar terdokumentasi dalam sebuah buku
  4. Membuat kesepakatan kelas
  5. Menerapkan konsekuensi logis
  6. Menerapkan pembelajaran dan asesmen berdiferensiasi

Jadi dapat disimpulkan, keterkaitan potensi dan kesempatan berkembang sangatlah erat.

Selasa, 08 Maret 2022

REPORT TEXT





Pernahkah kalian mendeskripsikan sesuatu secara detail dalam bentuk tulisan? Jika ya, apa yang biasanya kalian jelaskan dalam tulisan?


Kali ini kita akan belajar tentang Report Text. Terkadang kita sering dibingungkan antara Descriptive Text dan Report Text, karena keduanya sama-sama menjelaskan tentang sesuatu. Perbedaan dari kedua teks ini adalah jika Descriptive Text menjelaskan sesuatu secara khusus (kucing peliharaan), sebaliknya Report Text menjelaskan sesuatu secara umum (kucing).


Jadi bisa dikatakan Report Text adalah jenis teks yang menjelaskan sebuah deskripsi atau informasi berdasarkan fenomena, observasi, atau penelitian (describes information about general things).


Sedangkan tujuan dari Report Teks adalah menjelaskan objek atau sesuatu sesuai dengan keadaanya (the purpose is to describe something to the readers).


Report Text menggunakan simple present tense dalam penulisannya. Selain itu, ia juga menggunakan linking verbs (taste, seem, look, etc.), adverb of time (always, usually, rarely, etc.).

Untuk membuat Report Text, kita perlu memperhatikan bagian-bagiannya dengan tepat. Di dalam Bahasa Inggris biasa kita sebut Generic Structure. Pada Report Text, ada 2 (dua) bagian, diantaranya:

1. General Classification ( Klasifikasi Umum)

Bagian ini terletak di paragraf awal, berisi tentang pernyataan umum, atau hal umum terkait objek yang akan dijelaskan (tell general statement about the thing that will be described).

2. Description (Deskripsi)

Setelah di awali dengan general classification, Report Text akan dilanjutkan dengan deskripsi lebih detail dari objek tersebut. Biasanya bagian ini berisi tentang hal-hal ilmiah baik tentang objek, habitat, kebiasaan, ciri fisik, dan lain-lain (explain or describe the object in detail information that is about its habit, body structure, parts, phenomenon, etc.).



Contoh Text:

CAT

Cat is the cute mammal. It is the family of Felidae. There are many kind of cats, but in this section we are going to talk about domestic cat. Cat is the animal which can be a pet in our home. It has friendly and tame character. It is carnivore and usually used as the mouse hunter. The pure breed of cat is only about 1% in the world.

Cat's weight is around 7 - 10 kg. Cat reproduces by giving birth and feeding of breast to its kitten. Generally, cat can be easy to be human's friends.

Selasa, 07 September 2021

GREETING CARD

 





Happy graduation my best friend!


Pernahkan kamu mengucapkan kalimat itu kepada temanmu yang sedang merayakan kelulusannya? Atau kamu pernah mendapat ucapan seperti itu dari seseorang? Apakah kamu tau, jika banyak sekali jenis-jenis kartu ucapan?

Nah kali ini kita akan bahas tentang hal tersebut. Dalam Bahasa Inggris, kartu ucapan disebut greeting card. So, what is greeting cards?


Pengertian Greeting Card (kartu ucapan)


Greeting card atau kartu ucapan adalah sebuah teks dalam Bahasa Inggris yang berisikan ungkapan/ucapan atau pun harapan yang dikirim untuk seseorang di momen tertentu. Biasanya, greeting card ini dihiasi juga dengan sebuah gambar dan dengan warna yang beragam. Ada berbagai jenis greeting card yang biasa kita temui.


Jenis Jenis Greeting Card


👉 Birthday Card


(Kartu ucapan yang dikirimkan kepada seseorang yang sedang merayakan ulang tahun)

Contoh :

1. Be happy!
2. Be awesome! 
3. May peace be upon you. 
4. Happy Birthday!
5. Happy birthday for you the nice person in the world.
6. I hope you always happy and all your dream will come true."



👉Congratulation Card

(Kartu ucapan yang dikirimkan kepada seseorang untuk memberikan selamat atas sebuah keberhasilan atau kesuksesan baik dalam bidang akademik maupun non akademik)

Contoh :

1. Congratulations on your success.
2. You worked hard for it, and now the result is here.
3. My best wishes are always with you.
4. You deserve the grandest celebration of all. 
5. I wish you all the very best for your future life. 
6. Congratulations to you my dear!



👉Thanking Card

(Kartu ucapan yang dikirimkan kepada seseorang untuk mengungkapkan rasa terima kasih)

Contoh :

1. Thank you I really appreciate your help.

2. Thank you for your guidance and support.



👉Wedding Card

(Kartu Ucapan yang dikirimkan untuk seseorang yang baru saja menikah)

Contoh :

1. Your wedding day will come and go, but may your love forever grow.

2. May you forever find joy in each others eyes, warmth in each others arms, love in each others hearts.


👉Condolence Card

(Kartu Ucapan yang dikirimkan kepada seseorang yang berisi rasa bela sungkawa atas meninggalnya seseorang atau terkena musibah).

Contoh :

1. I am so sorry to hear that disaster you are experienced.

2. She has been a more peaceful place right now. It’s okay.





Let's Practice!

A. Arrange the words to make a perfect sentences!

1. Wish - happy - the - all - Ana - birthday - you - best.

2. Job - for - congratulation - new - your.

3. Special - my - to - friend - you - thank.

4. You - for - and - wife - wedding - happy - your.

5. Am - about - to - loss - sorry - hear - your - I.



B. Make a greeting card and give to your friend’s birthday


Senin, 30 Agustus 2021

PROCEDURE TEXT


Apa makanan favoritmu? Apakah kamu bisa membuat makanan favoritmu sendiri? Jika iya, bisakah kamu memberikan instruksi bagaimana cara membuat makanan itu?

Memberikan sebuah instruksi langkah - langkah dan arahan tentang membuat sesuatu atau mengoperasikan sesuatu, bisa kita muat dalam sebuah tulisan yang disebut teks prosedur.

Pernahkah kalian membuat sebuah teks prosedur? Sekarang, mari kita simak cara menyusun teks prosedur yang baik dan benar.

Procedure Text biasanya menggunakan bentuk simple present tense dan kalimat imperatif. Ia juga memiliki tiga struktur penting dalam susunan teksnya. Diantaranya:


Goal/Aim

Biasanya goal/aim dalam procedure text dicantumkan pada judul atau headline. Contohnya: How to make a cup of coffee / Cara Membuat Segelas Kopi.


Materials/Ingredients

Pada bagian ini, kita bisa menggunakan kata-kata seperti materials, tools, atau ingredients ketika menyebutkan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah prosedur. 

Jika procedure text menyangkut tentang makanan atau minuman, biasanya kita menyebutnya 'ingredients and materials'.

Sedangkan ketika menyangkut barang, peralatan atau sejenisnya, kita bisa menggunakan 'tools' atau 'materials'

Contohnya: 
  1. Make food or drink
    Ingredients: Coffee powder, sugar, hot water
    Materials   :  Cup/Glass, spoon

  2. Operate or make something
    Tools / materials: scissor, ruler, colored paper, glue 


Steps/Methods

Pada bagian ini, kita menjelaskan langkah-langkah dan cara agar goal/aim mencapai hasilnya. Dalam memberikan instruksi kita bisa menggunakan urutan angka seperti first, second, third, dan seterusnya. Selain urutan angka, kita juga bisa menggunakan kata penghubung seperti next, then, after that, dan lain-lain. Di bagian akhir step biasanya akan ditutup dengan kata finally.

Contoh:
First, add a spoon of coffee powder into the glass.
Second, add some sugar. Then, pour some hot water into the glass.
Third, stir them well.
Finally, a cup of coffee is ready to be served.


Agar lebih memahami tentang Text Procedure, silahkan tonton video berikut ini:





Let's practice!

1. Make a simple procedure text of food or drink.

2. Make a simple procedure text of electronic operation or make something else
   (not food or drink).