“Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.”
Pernahkah anda mendengar slogan luar biasa ini?
Ya, slogan ini adalah milik portal Rumah Belajar yang digemakan oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Lonjakan minat pengguna dan antuasiasme para pendidik serta peserta didik negeri, semakin menginspirasi pelakon dunia pendidikan untuk mengikuti event PembaTIK 2020. Beberapa level telah terselesaikan, hingga sampailah pada tahap akhir di level 4 ini.
Dalam level 4 ini, para Sahabat Rumah Belajar (SRB) 2020, dituntut untuk memasuki tahap berbagi inovasi demi mewujudkan merdeka belajar. Nantinya, para SRB ini akan mengikuti seleksi pemilihan Duta Rumah Belajar (DRB). Setiap provinsi akan memiliki satu DRB untuk mewakili daerahnya sebagai influencer dari Kemdikbud dalam pengenalan dan penerapan Rumah Belajar. Sebuah portal pendidikan GRATIS dari pemerintah, untuk solusi pembelajaran mandiri secara daring.
Duta Rumah Belajar sendiri merupakan perpanjangan tangan dari Pustekkom Kemendikbud dalam melakukan pengembangan dan pendayagunaan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Untuk memperkuat pemahaman peserta maka Kemdikbud menyelenggarakan kuliah umum yang bisa diikuti oleh peserta selain SRB 2020. Sebagai bentuk dukungan dan motivasi, pada tanggal 14 September 2020, Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. secara resmi membuka acara kuliah umum level 4 melalui Zoom Meeting.
Berikut adalah resume dari beberapa kuliah umum yang telah diselenggarakan dari tanggal 15 - 18 September 2020;
15 September 2020
1. Kiat Sukses Bagi Para Pendidik Untuk Berkomunikasi Dengan Publik
Dalam materi kuliah yang disampaikan oleh Charles Bonar Sirait, SE., MM. ini, beliau menyampaikan bahwa tuntutan kemampuan pendidik untuk berkomunikasi dengan publik adalah salah satu faktor penting yang harus dimiliki. Dalam komunikasi sendiri, terdapat tiga siklus dasar penyampaian pesan, yakni:
pengirim pesan --- pesan --- penerima pesan
Selain itu, ada empat poin yang harus dipelajari, di antaranya:
(a) Memahami pola komunikasi sederhana
"Memimpin pada dasarnya adalah perkara mempengaruhi dan meyakinkan orang lain." Kate Ludeman, Ph.D.
Sebagai pendidik, kita harus mempunyai akun media sosial sendiri, dalam akun-akun tersebut, karakter dan appereance kita harus dijaga. Karena sebagai pusat perhatian publik, kita harus mampu menarik perhatian dan membuat publik 'terjaga'. Sebab pada umumnya, komunikasi akan mudah sampai jika penyampai pesan adalah orang populer, penting, atau berpengaruh.
(b) Impactful Communication
"Having the power to effect the feelings or sympathies"
Dalam hal ini, pesan tidak hanya sampai, tapi juga mampu mempengaruhi alam bawah sadar. Pesan akan membekas jika mampu affecting, giving emotional, moving, impressing, dan touching.
(c) Persuasive Communication
Dalam hal ini, seorang public speaker bisa menggunakan gambar dan materi bantu untuk memperkuat komunnikasinya pada audience.
(d) Personal Branding
Personal branding adalah hal sintesis, gabungan dari ekspektasi, citra diri, serta persepsi yang timbul dalam pemikiran orang lain. Kita harus mampu menunjukan otensitas, dan keunikan sendiri agar memiliki ruang di ingatan orang lain. Dukungan internal dan eksternal juga sangat mendukung untuk menjual 'kelebihan diri kita'.
2. Motivasi Guru Dalam Mendidik: Belajar dalam Mengajar
Pada sesi kuliah umum kali ini, Butet Manurung sebagai narasumber pakar, aktivis pendidikan, dan pendiri sekolah rimba berkesempatan memberikan ilmu inspiratif dan motivatif.
Beliau menyampaikan bahwa sistem pendidikan di rimba sudah kontekstual sesuai dengan kebutuhan hidup di rimba. “Context shape content, not the other way around”
Penggunaan metode sokola adalah sesuatu yang paling pas untuk anak-anak rimba agar melek huruf, dan tidak dibodohi lagi oleh orang asing yang hendak mengambil hak tanah mereka tanpa tahu isi surat yang di cap jempol.
Dalam model pendidikan sokola, ada tiga tahap yang harus dilalui yakni literasi dasar dan terapan, pengetahuan dunia luar dan penguatan identitas, serta pengorganisasian dan advokasi.
Belajar dari sekolah rimba, literasi seharusnya tidak hanya membuat melek baca tapi juga melek masalah, agar anak-anak rimba mampu melindungi adat istiadat dan tempat tinggalnya.
“Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan” Orang Rimba
Hal penting yang perlu diingat bahwa prinsip guru adalah HUMILITY (human, humus, humble) EDUCATION (e dan ducares = membebaskan). Guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu sarana pendidikan, bukan tujuan.
3. Kebijakan Pendidikan Terkait Guru dan Tenaga Kependidikan
Bersama Dr. Iwan Syahril, Ph.D. kita banyak belajar tentang hakikat pendidikan, serta pendalaman filosofi yang dimiliki bangsa Indonesia. Fisolosi itu digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara.
1. Ing ngarsa sung tulada
2. Ing madya mangun karsa
3. Tut wuri handayani
Guru dalam prespektif merdeka:
a. Belajar adalah memandang anak dengan rasa hormat.
Dalam pandangan ekologis, kita harus memperhatikan aspek nature dan nurture. Guru hanya bisa menuntun untuk jadi lebih baik, tidak merubah kodrat dan bakat dari anak itu sendiri. Umpama, guru adalah seorang petani, dan siswa adalah bibitnya. Maka, guru tak bisa memilih bibitnya, tugasnya hanya menumbuhkan bibi-bibit itu menjadi tumbuhan yang sehat dan baik.
Menurut Convergentic-theorie. Anak lahir diibaratkan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh tapi semua tulisan itu suram. Pendidikan berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan berisi baik agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan agar jangan menjadi tebal, bahkan jika bisa dibikin lebih suram. Pada dasarnya, pendidkan adalah ‘tuntunan’.
b. Mendidik secara holistik.
Dalam pendidikan secara holistik, harus tercipta budi pekerti yang selaras. Ada olah rasa, olah cipta, olah raga, dan olah karsa. Pendidikan yang holistik akan menciptakan masyarakat yang bijaksana.
c. Mendidik secara relevan / kontekstual
Dalam kerangka utama filososfi KHD, ada yang disebut dengan kodrat keadaan. Pada kodrat tersebut, dibagi lagi menjadi kodrat alam (sifat, bentuk), dan kodrat zaman (isi, irama).
Kodrat zaman kita, adalah situasi dimana teknologi menjadi sahabat manusia sehari-hari. Kebudayaan saat ini didominasi mesin.
Sebagai seorang pendidik, kita bisa menggunakan analogi Whatsapp. Yakni pentingnya centang dua berwarna biru dalam mentransfer ilmu pada peserta didik. Hal itu ditandai dengan kualitas belajar murid yang meningkat.
Hal penting lain yang harus kita ingat adalah pondasi profil pendidikan pancasila, yakni berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, gotong royong, dan kreatif.
Note: Part 2 ada di artikel selanjutnya.







0 komentar:
Posting Komentar
Sertakan nama untuk meninggalkan jejak komentar, dan terima kasih sudah mampir, semoga bermanfaat.