Let's Learn English

Belajar Bahasa Inggris Jadi Menyenangkan Bersama Fun Dora

Bersama Fun Dora, Bahasa Inggris anda berada di dalam genggaman.

Olimpiade Guru Nasional

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) menjadi salah satu wadah para pendidik melebarkan sayap untuk merdeka belajar.

Generasi Digital (Industri 4.0)

Kini, pembelajaran berbasis TIK bukan sekadar pelengkap, tapi telah menjadi satu jiwa dengan proses belajar mengajar itu sendiri.

Pembelajaran Abad 21

Mari menciptakan atmosfer kelas yang berpusat pada peserta didik.

Rumah Belajar

Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Sabtu, 15 April 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
INTAN WIDORA
CGP ANGKATAN 7 KABUPATEN PRINGSEWU



Ing Ngarso Sung Thulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani adalah sebuah f
ilosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan untuk menjadi dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Karena sejatinya pendidik adalah penuntun kodrat anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya. Hal tersebut dilakukan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Makna kata “Penuntun”, dapat dipahami sebagai “Pemimpin Pembelajaran”, yang berpusat pada murid.

Berlandaskan filosofi tersebut niscaya akan ada perubahan positif pada makna Budi Pekerti. Dalam hal ini Budi (cipta, rasa, karsa) dan Pekerti (tenaga/raga). Keduanya harus seimbang dan menyeluruh. Semua disiplin ilmu dan pengambllan keputusan harus menuju pada makna kebijaksanaan. Menurut KHD, " Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak", artinya semua yang kita lakukan di bidang pendidikan harus berorientasi kepada murid.

"Pendidikan itu harus memerdekakan"
Memerdekakan sebuah pendidikan bisa dilihat dari bagaimana pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak pada murid. Hal tersebut akan menjadi tauladan bagi murid-murid untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

Nilai-nilai yang dimiliki seorang guru adalah nilai kebajikan, seperti keadilan, tanggung Jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Menerapkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diimplementasikan oleh murid kita.

Sebagai Calon Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Untuk dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab diperlukan prosedur dan pendekatan sehingga keputusan tersebut  berorientasi pada kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk mengantarkan murid untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada dalam menyikapi sebuah permasalahan. Pertanyaan berbobot yang diberikan Coach dapat membuat murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee sebuah alur TIRTA.

Alur TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. ModelTIRTA dikembangkan dari Model GROW. 
GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.
  • Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
  • Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
  • Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
  • Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

TIRTA akronim dari :
  • T : Tujuan
  • I : Identifikasi
  • R : Rencana aksi
  • TA: Tanggung jawab

Jika kita lihat lagi salah satu pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang peran utama guru adalah seorang pamong, maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Alur TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak.

Lebih jauh lagi, diperlukan adanya kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).

Ketika proses pengambilan keputusan, diperlukan kesadaran penuh (mindfulness). Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa di dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stres, dan munculnya perasaan tenang dan stabil (Kabat-Zinn, 2013, hal. 37).

Sebagai seorang pendidik atau pemimpin pembelajaran kita sering bertemu pada suatu keadaan di mana kita harus mengambil sebuah keputusan dilematis. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya kita bertemu dengan kasus bujukan moral.

Karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip seseoran. Inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Ketika pemimpin pembelajaran berhadapan dengan kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, maka nilai-nilai diri yang dianut akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid, tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak .

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran. 

Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita bisa menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. 

Sebagai upaya pengambilan keputusan yang tepat, yang berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dapat juga dilakukan dengan bebrapa tahap berikut seperti mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang sesui dari suatu kasus, memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan, dan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika.

Perubahan tidak dapat dibangun secara singkat, namun ada proses yang harus dilalui dan dikerjakan agar terwujud. Perlu adanya sosialisasi dan komunikasi secara persuasif secara terus-menerus agar lingkungan yang masih menggunakan paradigma lama akan memiliki pemahaman baru dan mampu beradaptasi dengan adanya perubahan. Pengambilan keputusan atas adanya perubahan maka perlu dilakukan dari hal kecil agar menjadi kebiasaan dan budaya positif dalam lingkungan tersebut. Dengan berdasarkan pada visi dan misi serta tujuan sekolah, maka akan mencapai perubahan yang dapat diterima oleh lingkungan atau warga sekolah. 

Selain itu tantangan juga muncul tentang pengalaman kegagalan mengambil keputusan di masa lalu. Kekhawatiran jika keputusan yang diambil justru berdampak tidak baik (merugikan) bagi sebagian besar suatu pihak.

"Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan transformasional, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" (Nadiem Makarim, 2020)

Merdeka belajar merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang dia miliki. sebagai pemimpin pembelajaran tentunya sudah memahami pokok-pokok atas perubahan yang salah satunya pembelajaran berpihak pada murid, sehingga seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan pengambilan keputusan mampu memfasilitasi dan memerdekakan murid dalam proses pembelajaran di sekolah. 

Selain itu kita juga perlu menyadari bahwa karakteristik anak yang berbeda perlu kita pertimbangakn dalam memutuskan pembelajaran yang tepat sesuai denga kebutuhan dan minat mereka dalam proses yang berdiferensiasi.

Guru adalah pemimpin pembelajaran sebagai pamong yang diibaratkan seorang petani yang menyemai benih. Benih tersebut dapat tumbuh subur apabila dirawat, dan dijaga dengan baik. Demikian juga dengan murid, seorang guru bertanggungjawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki murid sebagaimana petani yang menyemai benih untuk mendapatkan hasil yang baik sehingga setiap keputusan guru akan berpengaruh pada masa depan murid.  
Keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan mecerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. 

Kesimpulan yang bisa saya ambil dalam hal ini adalah:
  • Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada BUDI PEKERTI anak. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. Semua disiplin ilmu dan pengambilan keputun harus menuju kepada KEBIJAKSANAAN.
  • Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
  • Diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).
  • Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). 
  • Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila. 
  • Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah
  • Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.
Sejauh pemahaman di modul 3.1 ini, saya pribadi banyak belajar tentang 4 paradigma, 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan, serta menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil. Hal diluar dugaan yang saya alami adalah ternyata ada perbedaan jelas antara dilema etika dan bujukan moral dalam sebuah pengambilan keputusan.

Sebelum mempelajari modul ini, saya beberapa kali mengambil sebuah keputusan yang menjadi dilema. Setelah saya mengetahui pemaparan dalam modul ini, saya menyadari bahwa ada beberapa paradigma dan prinsip pengambilan keputusan yang pernah saya implementasikan.

Setelah mempelajari modul ini, tentu pengambilan keputusan saya lebih tersusun dan prosedural dengan menggunakan 9 langkah yang sudah dijabarkan. Oleh karena itu, dengan memahami isi modul ini, menjadi sangat penting dalam pendalaman teori pengambilan keputusan yang bertanggung jawab agar apa yang kita yakini sudah sesuai dengan jalurnya.