Let's Learn English

Belajar Bahasa Inggris Jadi Menyenangkan Bersama Fun Dora

Bersama Fun Dora, Bahasa Inggris anda berada di dalam genggaman.

Olimpiade Guru Nasional

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) menjadi salah satu wadah para pendidik melebarkan sayap untuk merdeka belajar.

Generasi Digital (Industri 4.0)

Kini, pembelajaran berbasis TIK bukan sekadar pelengkap, tapi telah menjadi satu jiwa dengan proses belajar mengajar itu sendiri.

Pembelajaran Abad 21

Mari menciptakan atmosfer kelas yang berpusat pada peserta didik.

Rumah Belajar

Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Sabtu, 10 Oktober 2020

SIAPKAN AMUNISI DENGAN KOORDINASI BERBAGAI JAJARAN PENTING


Apa kabar Sahabat Rumah Belajar?

Kali ini Author kembali dengan rekam jejak bersama pemimpin-pemimpin tangguh dan luar biasa. Siapa saja mereka dan apa yang dibincangkan? Yuk, kita kulik satu per satu.

Sebelum kita mengulas lebih jauh, Author pribadi ingin mengucapkan terima kasih banyak. Seratus atau seribu ucapan itu rasanya tak mampu membalas kerelaan beliau mendampingi Author dalam banyak kegiatan, salah satunya adalah kegiatan ini. Beliau adalah seorang penulis terkenal, sudah banyak karya yang telah ia terbitkan. Kegiatan sosial pun tak luput dari campur tangannya, seorang guru hebat. Di tengah waktu sibuknya, ia masih sempat menemani saya dengan motor maticnya mengelilingi kota Muaradua hanya untuk mendukung dan mengawal kegiatan sosialisasi Portal Rumah Belajar. Ya, beliau adalah sang novelis, Ana Yuliana. Author sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk membersamainya.

Dengan ditemani Ibu Ana, kami berdua mulai menggelindingkan roda motor menuju tempat pertama. Kunjungan perdana ini menjadi bekal motivasi yang kuat. Pertemuan dengan pihak MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Inggris OKU Selatan. Respon yang antusias dan dukungan penuh demi terselenggaranya sosialisasi ini ditunjukan oleh Bapak Puput Adi Wijaya, S.Pd., sebagai ketua MGMP Bahasa Inggris Kabupaten OKU Selatan. Dalam bincang kali ini, beliau menyampaikan apresiasi penuh dan siap memberikan bantuan untuk mengadakan sosialisasi Rumah Belajar pada hari Sabtu, tanggal 17 Oktober 2020. Restu sudah dikantongi, kami pun beranjak menuju naungan tercinta Dinas Pendidikan Kabupaten OKU Selatan.


 

Ini adalah pertemuan yang sangat berkesan. Sangking berkesannya sampai kami tidak bisa membedakan mana tempat parkir roda dua dan roda empat. Alhasil motor kesayangan digiring paksa tanpa disadari untuk pindah dari jejeran mobil yang berbaris. Kadang momen seperti ini, menjadi bumbu renyah untuk tertawa di tengah semangat yang mengudara.

Dengan langkah percaya diri, kami melenggang menuju ruang GTK Dinas Pendidikan OKU Selatan, dan ternyata kedatangan kami sudah dinanti. Tak tanggung-tanggung, orang-orang hebat sekelas Ketua PGRI dan Kabid GTK yang merangkap Sekretaris PGRI telah menanti. Bapak H. Harsono, S.Pd.I dan Bapak Eduarken, S.Pd., M.Si., telah mengawali obrolan asik mereka sambil menonton Channel Youtube milik Author.


 

Setelah menampilkan slide action plan untuk sosialisasi dan penjelasan singkat tentang pembaTIK, doa dan apresiasi penuh mengalir deras dari mereka. Bahkan, dinas siap memback up kegiatan sosialisasi tatap muka yang akan di selenggarakan pada tanggal 14, 15, dan 17 Oktober 2020. Di akhir sesi sebelum foto bersama, ada memori haru yang tersemat di antara kami, Author bahkan sampai tak dapat menahan titik bening di sudut mata.

Melalui Bapak Eduarken, kami diberi waktu untuk mengunjungi kantor Harian OKU Selatan (HOS) sebelum bertemu langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan. Kebetulan saat jam itu, beliau ada rapat dengan para pejabat pemerintah daerah.


 

Saat sampai di kantor surat kabar lokal ini, Author kembali mendapat apresiasi hebat dan dukungan penuh untuk turut membumikan Portal Rumah Belajar di bumi Serasan Seandanan. HOS secara terbuka siap mempublikasikan serangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Sebagai bentuk motivasinya, HOS telah meluncurkan dua artikel tentang Author dan kegiatan pembaTIK ini. Hal tersebut menjadi pemantik semangat Author untuk terus mengenalkan portal Rumah Belajar, kenapa tidak, sebab melalui koran, Portal Rumah Belajar pasti akan dikenal tidak hanya oleh guru dan siswa, tapi juga oleh khalayak umum.



 

Dan sebagai pertemuan penutup yang mustajab, kami akhirnya bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan Bapak Zulfakar Dhani, S.Sos.. Di sela waktu sibuknya, beliau menyempatkan menerima kami di ruangannya dan dengan antusias mendengarkan kisah yang kami bawa tentang perjuangan pembaTIK di level 4 ini. Respon yang beliau berikan tak kalah luar biasa, ada doa yang tersemat dari beliau untuk sukses terselenggaranya kegiatan kami ini. Sesi berakhir manis dengan foto bersama dengan simbol Rumah Belajar, OKU Selatan, dan Literasi melalui gerakan tangan kami.


 

Okay, turun gunung kali ini mendatangkan banyak sekali doa. Meskipun pergi dan pulang tanpa kawalan mentari (berangkat subuh dan sampai rumah sudah mendekati waktu Isya), Author tetap memacu semangat dan asa untuk turut andil dalam sejarah negeri di pelosok Sumatera ini, agar ikut menggema dalam balutan era digitalisasi sekarang.

Salam semangat, salam berbagi.

Merdeka Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia.

Jumat, 09 Oktober 2020

RAPATKAN BARISAN DI COACHING HARI KEDUA DAN KETIGA PEMBATIK LEVEL 4 TAHUN 2020



Kembali lagi dengan kisah para PembaTIK dari bumi Sriwijaya.

Coaching hari kedua peserta langsung diarahkan ke dalam breakout room bersama tutor dan DRB masing-masing. Pada kesempatan ini, kami yang berada di kelompok kedua dibimbing oleh Ibu Betty Marlina sebagai DRB 2019, dan Bapak M. Amiruddin Jauhari dari pihak Pusdatin.

Para tutor memaparkan tentang aspek-aspek yang akan menjadi penilaian oleh tim panitia terkait tugas level 4. Ada sekitar 3 aspek yang akan menjadi pertimbangan tim penilai. Diantaranya aspek kualitas teknis, aspek presenter, dan aspek informasi. Ketiganya memiliki bobot nilai yang sesuai dengan kriteria tugas para Sahabat Rumah Belajar (SRB).

Setelah penjelasan tentang apa saja yang harus dicapai oleh SRB untuk menyelesaikan tugas, para tutor dan SRB berbincang ringan dan saling bertukar informasi serta tips untuk menghadapi berbagai kendala yang kerap muncul saat proses pengerjaan tugas.

Setelah obrolan berbobot itu usai, kami para SRB bersiap diri mempersiapkan presentasi yang menarik, singkat, dan jelas tentang action plan untuk sosialisasi portal Rumah Belajar.

Esok harinya, tepat saat coaching ketiga, kami disatukan lagi dalam satu room bersama dua kelompok lainnya, dan seluruh tutor serta DRB Sumatera Selatan.

Banyak sekali drama dan kisah inspiratif yang menghiasi coaching terakhir ini. Semua peserta telah siap dengan materi presentasi masing-masing. Peserta diberi kesempatan hanya 5 menit untuk menjabarkan action plannya. 

Presentasi diawali oleh seorang SRB berpengalaman dalam dunia blogging, kemampuannya dalam mengolah blog sudah tak diragukan lagi. Presentasinya menjadi inspirasi bagi peserta lainnya untuk mengola blognya lebih baik lagi.

Inspirasi lainnya dihadirkan oleh seorang guru yang rela mengarungi samudera, eh maksudnya sungai. Beliau berjuang dengan sepeda motornya menumpang sebuah kapal untuk mencari sinyal yang stabil, tujuannya agar tak menjeda presentasi di coaching kali ini. Salah satu potret pejuang pendidikan dengan senjata pena runcing, bukan bambu runcing.

Selanjutnya, jika anda belum pernah presentasi pada posisi ketinggian, mungkin guru yang satu ini juga bisa diuji ilmu meringankan tubuhnya. Ya, guru itu tak lain tak bukan adalah Author sendiri. Kami harus sampai naik ke sebuah tangga rumah milik tetangga. Dengan posisi memangku laptop dan 'nangkring' di tangga, kami meminta izin pada salah satu DRB untuk memperbolehkan diri maju presentasi mendahului antrian peserta. Sebab musababnya karena sinyal yang takut raib tiba-tiba, dan kaki yang sedikit gemetar menahan laptop di tangan. Momen yang akan menjadi memori klasik dan unik.

Lalu, ada pula kisah inspiratif yang datang dari seorang guru hebat lainnya, beliau sedang berada di ruangan peer teaching, kebetulan beliau sedang menjalani program Pendidikan Profesi Guru (PPG), bebarengan dengan pembaTIK ini. Terbayang kan bagaimana harus menghandle konsentrasi di dua kegiatan yang bersamaan. Bisa jadi beliau memiliki jurus seribu bayangan, bisa muncul di dua ruang sekaligus. Salut sekali.

Dan yang tak kalah nyeleneh, seorang guru enerjik nan cerdas yang juga sedang mengikuti dua kegiatan penting, program dari Kemdikbud semua. Keren ya. Beliau berkesempatan mengabadikan background sebuah bandara dalam coaching kali ini. Dan, mungkin beliau juga memiliki jurus dua ribu bayangan, bisa menembus ruang dan waktu secara bersamaan.

Bumbu-bumbu mengharukan juga tak kalah memotivasi ketika sinyal dan jadwal pemadaman listrik membayangi wajah-wajah SRB hebat ini. Namun semangat yang luar biasa tetap terasa hadir dalam coaching ini. Para tutor dan panitia yang hadir turut memberi masukan membangun terkait action plan yang dipaparkan. Canda ringan untuk memecahkan rasa tegang dan mencairkan suasana pun tercipta di antara kami.

Sedangkan peserta yang mendapatkan sinyal dan posisi baik untuk presentasi pun turut menyemangati kami yang berjuang dengan ragam halang rintang ini. Bahkan ada yang juga menampilkan foto epik di akhir presentasinya dengan gambar pempek asli makanan khas 'wong kito galo'.

Gayung bersambut, obrolan ringan riuh terjalin diantara SRB, DRB, tutor, dan panitia dari Pusdatin. Pempek oh pempek, cukamu sungguh legit dan cetar.

Perjuangan masih panjang, karena siapa pun DRB nya, yang utama adalah tetap berbagi, mensosialisasikan Portal Rumah Belajar di bumi pertiwi.

 

Merdeka Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia.

 

Salam berbagi dari Author.



Selasa, 06 Oktober 2020

Pandangan Pertama dalam Bingkai SRB SUMSEL 2020


Hai Sahabat Rumah Belajar, sudahkah berbagi hari ini?

"Sungguh berbagi bukan tentang seberapa besar dan seberapa berharganya hal yang kita beri, namun seberapa tulus dan ikhlasnya apa yang ingin kita relakan." 

Kali ini Author akan menampilkan wajah-wajah hebat dari belahan bumi Sumatera Selatan dalam bingkai PembaTIK SRB 2020. Jarak dan kesempatan yang memisahkan kami tak menyurutkan semangat kami untuk saling menularkan rasa berbagi dalam rangka memerdekakan pendidikan di Indonesia. Berada di antara orang-orang hebat menjadi salah satu motivasi Author untuk menjadi bagian dalam memori perjuangan pendidikan di negeri kita ini.

Banyak orang pintar, banyak orang hebat, dan banyak orang kaya. Tapi, adakah banyak yang mau seperti para pejuang pendidikan yang terbalut dalam sampul DRB dan SRB PembaTIK ini? Mereka, rela meluangkan waktu istirahatnya hanya untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam dunia TIK, agar bisa dibagikan ke khalayak dan memanfaatan karya yang dibuat.

Rasa dan jiwa berbagi merekalah yang mengalahkan rasa bosan dan penat. Ada sesuatu yang terasa indah di sudut kalbu saat karya kita bisa dinikmati banyak orang. Sebagai amal jariyah katanya.

Sebagai wujud bimbingan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, pada tanggal 5 Oktober 2020, telah diselenggarakan coaching pertama gelombang 4 untuk Provinsi Sumatera Selatan beserta 5 provinsi lainnya, yakni Jawa Tengah, Kalimantan Utara, NTT, Riau, dan Sulawesi Utara. 

Seluruh peserta dari 6 provinsi di awal pembukaan ViCon (Video Conference) masih berada dalam satu ruang zoom yang sama. Setelah mendengarkan pemaparan materi dari lembaga BPMTPK, seluruh provinsi masuk ke  breakout room masing-masing. 

Pada saat merapat ke wilayah SumSel, peserta mendapatkan materi dan motivasi yang menarik dari pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Bpk. H. Masherdata Musa'i. Beliau juga menjelaskan bahwa UNESCO pun turut berharap program TIK bisa dikuasai oleh guru.

Kemudian, sambutan dan pemaparan tentang peta mutu pendidikan SumSel juga turut dicerahkan oleh Bpk. Suyato sebagai kepala LPMP Sumatera Selatan. Beliau menyampaikan bahwa sistem PMP mengendalikan penyelenggaraan pendidikan oleh satuan pendidikan, sehingga mampu terwujud pendidikan yang bermutu. Selain itu, tujuan standar satuan pendidikan yang sistematis dan holistik juga harus tercapai sesuai dengan Permendikbud No. 28 tahun 2016.

Esensi dari ketercapaian mutu adalah adanya makna dan sesuai dengan kebutuhan, melalui tercapainya minimal kualitas layanan SNP.

Setelah mendengarkan para narasumber yang luar biasa, para peserta kemudian diarahkan untuk mendalami materi tentang kiat melaksanakan sosialisasi Portal Rumah Belajar dan membumikannya hingga pelosok negeri. Materi ini disampaikan oleh Bpk. Ardius sebagai DRB Sum-Sel 2018. Beliau mengatakan pilihan tatap maya atau tatap muka memiliki tantangannya tersendiri dan menghadirkan keseruannya masing-masing. Kegiatan yang bisa mendukung sosialisasi adalah dengan menebar flyer di MedSos, gunakan banner, membuat resume, dan sertakan Screenshoot.

Di kesempatan sesi berbagi kedua, peserta berkesempatan mendengarkan materi keren dari DRB Sum-Sel 2019, Ibu Betty Marlina. Beliau memberikan tips dan sistematik dalam membuat sebuah vlog yang menarik. Beliau juga memberikan penjelasan tentang bagaimana mengkaitkan vlog dengan materi atau memanfaatkan Portal Rumah Belajar.

Di sesi terakhir, giliran Bpk. Taufik Purwana sebagai DRB Sum-Sel 2017 yang memberikan penjelasan tentang bagaimana menciptakan blog dengan konten-konten yang menarik. Menurut beliau, postingan yang kita unggah ke blog harus memberikan wawasan yang komprehensif. Gaya penulis pasti berbeda-beda, namun kaidah dan peraturan menulis harus tetap dipakai, seperti membuat sumber referensi, memberikan label tag, dan meminimalisir typo.

 Di akhir coaching kali ini, para tutor dan narasumber kembali menyemangati para peserta untuk tetap konsisten dan kontinyu untuk senantiasa berbagi.

Salam berbagi dari SRB Sumsel 2020.

Teruslah tebar aura positif dan tularkan ilmu berbagi dengan sesama.

Merdeka Belajaranya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indoonesia.


Salam hangat yang termanis,

Intan Widora, S.Pd., Gr

 

 


Kamis, 24 September 2020

Kuliah Umum Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) Level 4: Berbagi (Part 2)



 

 

 

Masihkah anda ingat tentang para pakar yang hadir dalam Kuliah Umum PembaTIK Level 4 Part 1?

Mari mengingat sejenak, dalam part 1 ada kisah inspiratif dari Bapak Charles Bonar Sirait yang terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. Drama seorang Kakak Butet Manurung yang kesulitan naik pohon karena bertemu beruang, dan kisah seorang pahlawan pendidikan yang diingatkan lagi oleh Bapak Iwan Syahril.

Lalu bagaimana kesan anda pada narasumber yang tak kalah keren pada part 2 ini? Ayo kita mengulas kembali materi luar biasa yang telah mereka bagi pada kesempatan ini. Berikut adalah resume dari beberapa kuliah umum yang telah diselenggarakan;

 

16 September 2020

1.  Kiat Menyusun Penulisan yang Menarik

Siapa yang tak kenal dengan Asma Nadia? Bisa jadi para pembaca tahu bahkan penikmat setia tulisan-tulisan tangannya, atau malah sering terbawa perasaan setelah menonton film-film mengharu biru besutan hasil karya novel larisnya.

Ya, dialah penulis novel Surga yang tak Dirindukan, Emak ingin Naik Haji, Rumah tanpa Jendela, dan masih banyak lagi judul-judul ngetop miliknya.

Dalam materi kuliah yang disampaikan oleh bunda Asma Nadia ini, beliau menyampaikan bahwa bakat menulis hanya dibutuhkan 5% saja, sedangkan 90% nya lagi adalah kerja keras, dan sisanya yang 5% kembali pada keberuntungan anda masing-masing.

Menurutnya menulis bukan sekadar ide bagus, dan biasanya berawal dari keresahan si penulis sendiri terhadap suatu topik. Kemudian, cara pandangnya pada buku adalah sebagai suatu kebutuhan, bukan hanya sebuah hiburan di waktu luang.

Menulis sendiri adalah sebuah keterampilan yang bisa dipelajari. Alah bisa karena biasa. Untuk membentuk sebuah tulisan menarik pun ada kuncinya, yakni ide (baru dan dekat dengan pembaca), serta teknik penyajian (judul, konflik kuat, setting, penokohan menarik, bentuk cerita, dan ending yang berkesan)

Lebih jauh lagi, narasumber berkesempatan mengemukakan rahasia kenapa sebuah buku bisa menjadi Best Seller. Biasanya karya tersebut memiliki gagasan atau isi yang menarik, segmentasi jelas, menyasar pembaca perempuan, sosok buku yang unik, dibutuhkan, hadir dalam waktu yang tepat, kekuatan sosial media, promosi, dan pesan yang disampaikan pada pembaca.

 

17 September 2020

2.  Tips Membangun Sosial Media yang Sukses

Kuliah umum kali ini, kita berbincang dengan pakar dan pengelola situs @Ndorokakung, Bapak Wicaksono.

Sebuah data survei tentang penggunaan internet di dunia membuat para audience tertegun. Jumlah yang fantastis ternyata menghiasi diagram dan persentase para penikmat jaringan internet. Ada sekitar 7 jam 59 menit waktu yang dihabiskan pengguna internet di Indonesia untuk berselancar di dunia maya. Mayoritas usia pengguna berada pada 18 – 34 tahun, dan platform yang paling banyak diakses adalah Youtube.

Di era saat ini, setiap orang memiliki peran untuk membuat konten di dunia maya, yang bisa dilihat oleh khalayak ramai. Bapak Wicaksono menjelaskan, ada dua elemen penting dalam suksesnya sebuah media sosial, yakni:

a.    Strategi konten

Caranya adalah dengan memilih platform, optimasi bio, produksi (menulis, foto, video, dan infografis), penjadwalan posting, penyesuaian algoritma, dan pemanfaatan tanda pagar.

b.    Pemasaran

Jika ingin media sosial kita mudah dikenal maka berikut hal-hal yang harus dilakukan; membangun personal branding, optimasi akun medsos, optimasi website/blog (SEO), iklan, email, dan kolaborasi.

Adapun 10 kiat sukses lainnya yang bisa diterapkan adalah tetapkan tujuan mempunyai akun, tetapkan target, miliki ciri khas pada diri sendiri, cari jejaring bukan pengikutnya, membuat jadwal editorial, fokus berbagi dan membantu orang lain, berinteraksi dengan khalayak, berkreasi dengan konten visual, buatlah kehadiran anda diketahui umum, dan terkahir adalah selalu aktif.

 

18 September 2020

3.  Pemanfaatan Media Video Conference untuk Berbagi

Interaktif dan motivatif adalah dua kata yang bisa mewakili kuliah umum di penghujung jadwal ini. Bersama Prof. Dr. Ir. R. Eko Indrajit, M.Sc., MBA, Mphil, MA., kita banyak mendapatkan trik bagaimana melaksanakan Video Conference (ViCon) yang tak membosankan dan tepat target.

Melalui ViCon suatu pertemuan bisa menjadi lebih cepat, mudah, murah, dan cocok dengan situasi pandemi saat ini. Di lain sisi, ViCon juga memiliki kekurangan, yakni waktu yang terbatas, tidak efektif untuk engagement, piranti dan kinerja pengguna berbeda, serta sulit untuk memperagakan sesuatu.

Dalam materi kali ini, beliau mengatakan bahwa walaupun meggunakan media ViCon, pemateri dituntut tidak hanya menyampaikan pesan tapi juga bisa melakukannya. Sebelum melakukan ViCon hendaknya kita menyesuaikan karakteristik dan tujuan, merancang strategi proses, melakukan setting, menetapkan host, dan melakukan gladi resik.

Selain itu, interaksi dengan audience juga navigasi sangat penting. Jangan lupa untuk menjalin interaksi dan umpan balik dengan para audience. Kemudian, ingat bahwa daya tahan dan jangka waktu melakukan ViCon jangan terlampau banyak, untuk menghindari hal-hal yang tidak efektif.

 

Setelah mengikuti dan membaca serangkaian resume kuliah umum PembaTIK ini, kita jadi lebih terarah dan termotivasi untuk bertransformasi menjadi sosok yang gemar berbagi dan berinovasi untuk membentuk sebuah generasi bangsa yang lebih melek dunia melalui teknologi dan informasi yang ada.

 

Disana gunung disini gunung, ditengah tengah pulau Jawa

Janganlah hanya termenung, marilah kita berbagi ilmu dengan tawa

 

Semangat berinovasi, Merdeka Belajar bersama Rumah Belajar.

 

Note: Part 1 ada di artikel sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

Kuliah Umum PembaTIK Level 4: Berbagi (Part 1)


 

 

“Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.”

Pernahkah anda mendengar slogan luar biasa ini?

Ya, slogan ini adalah milik portal Rumah Belajar yang digemakan oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Lonjakan minat pengguna dan antuasiasme para pendidik serta peserta didik negeri, semakin menginspirasi pelakon dunia pendidikan untuk mengikuti event PembaTIK 2020. Beberapa level telah terselesaikan, hingga sampailah pada tahap akhir di level 4 ini.

Dalam level 4 ini, para Sahabat Rumah Belajar (SRB) 2020, dituntut untuk memasuki tahap berbagi inovasi demi mewujudkan merdeka belajar. Nantinya, para SRB ini akan mengikuti seleksi pemilihan Duta Rumah Belajar (DRB). Setiap provinsi akan memiliki satu DRB untuk mewakili daerahnya sebagai influencer dari Kemdikbud dalam pengenalan dan penerapan Rumah Belajar. Sebuah portal pendidikan GRATIS dari pemerintah, untuk solusi pembelajaran mandiri secara daring.

Duta Rumah Belajar sendiri merupakan perpanjangan tangan dari Pustekkom Kemendikbud dalam melakukan pengembangan dan pendayagunaan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Untuk memperkuat pemahaman peserta maka Kemdikbud menyelenggarakan kuliah umum yang bisa diikuti oleh peserta selain SRB 2020. Sebagai bentuk dukungan dan motivasi, pada tanggal 14 September 2020, Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. secara resmi membuka acara kuliah umum level 4 melalui Zoom Meeting.

Berikut adalah resume dari beberapa kuliah umum yang telah diselenggarakan dari tanggal 15 - 18 September 2020;

 

15 September 2020

1.  Kiat Sukses Bagi Para Pendidik Untuk Berkomunikasi Dengan Publik

Dalam materi kuliah yang disampaikan oleh Charles Bonar Sirait, SE., MM. ini, beliau menyampaikan bahwa tuntutan kemampuan pendidik untuk berkomunikasi dengan publik adalah salah satu faktor penting yang harus dimiliki. Dalam komunikasi sendiri, terdapat tiga siklus dasar penyampaian pesan, yakni:

                pengirim pesan --- pesan --- penerima pesan

Selain itu, ada empat poin yang harus dipelajari, di antaranya:

(a) Memahami pola komunikasi sederhana

"Memimpin pada dasarnya adalah perkara mempengaruhi dan meyakinkan orang lain." Kate Ludeman, Ph.D.

Sebagai pendidik, kita harus mempunyai akun media sosial sendiri, dalam akun-akun tersebut, karakter dan appereance kita harus dijaga. Karena sebagai pusat perhatian publik, kita harus mampu menarik perhatian dan membuat publik 'terjaga'. Sebab pada umumnya, komunikasi akan mudah sampai jika penyampai pesan adalah orang populer, penting, atau berpengaruh.

(b) Impactful Communication

"Having the power to effect the feelings or sympathies" 

Dalam hal ini, pesan tidak hanya sampai, tapi juga mampu mempengaruhi alam bawah sadar. Pesan akan membekas jika mampu affecting, giving emotional, moving, impressing, dan touching. 

(c) Persuasive Communication

Dalam hal ini, seorang public speaker bisa menggunakan gambar dan materi bantu untuk memperkuat komunnikasinya pada audience.

(d) Personal Branding

Personal branding adalah hal sintesis, gabungan dari ekspektasi, citra diri, serta persepsi yang timbul dalam pemikiran orang lain. Kita harus mampu menunjukan otensitas, dan keunikan sendiri agar memiliki ruang di ingatan orang lain. Dukungan internal dan eksternal juga sangat mendukung untuk menjual 'kelebihan diri kita'.

 

2.  Motivasi Guru Dalam Mendidik: Belajar dalam Mengajar

Pada sesi kuliah umum kali ini, Butet Manurung sebagai narasumber pakar, aktivis pendidikan, dan pendiri sekolah rimba berkesempatan memberikan ilmu inspiratif dan motivatif.

Beliau menyampaikan bahwa sistem pendidikan di rimba sudah kontekstual sesuai dengan kebutuhan hidup di rimba. “Context shape content, not the other way around”

Penggunaan metode sokola adalah sesuatu yang paling pas untuk anak-anak rimba agar melek huruf, dan tidak dibodohi lagi oleh orang asing yang hendak mengambil hak tanah mereka tanpa tahu isi surat yang di cap jempol.

Dalam model pendidikan sokola, ada tiga tahap yang harus dilalui yakni literasi dasar dan terapan, pengetahuan dunia luar dan penguatan identitas, serta pengorganisasian dan advokasi.

Belajar dari sekolah rimba, literasi seharusnya tidak hanya membuat melek baca tapi juga melek masalah, agar anak-anak rimba mampu melindungi adat istiadat dan tempat tinggalnya.

“Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan” Orang Rimba

Hal penting yang perlu diingat bahwa prinsip guru adalah HUMILITY (human, humus, humble) EDUCATION (e dan ducares = membebaskan). Guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu sarana pendidikan, bukan tujuan.

 

3.  Kebijakan Pendidikan Terkait Guru dan Tenaga Kependidikan

Bersama Dr. Iwan Syahril, Ph.D. kita banyak belajar tentang hakikat pendidikan, serta pendalaman filosofi yang dimiliki bangsa Indonesia. Fisolosi itu digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara.

1.     Ing ngarsa sung tulada

2.    Ing madya mangun karsa

3.    Tut wuri handayani

Guru dalam prespektif merdeka:

a.    Belajar adalah memandang anak dengan rasa hormat.

Dalam pandangan ekologis, kita harus memperhatikan aspek nature dan nurture. Guru hanya bisa menuntun untuk jadi lebih baik, tidak merubah kodrat dan bakat dari anak itu sendiri. Umpama, guru adalah seorang petani, dan siswa adalah bibitnya. Maka, guru tak bisa memilih bibitnya, tugasnya hanya menumbuhkan bibi-bibit itu menjadi tumbuhan yang sehat dan baik.

Menurut Convergentic-theorie.  Anak lahir diibaratkan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh tapi semua tulisan itu suram. Pendidikan berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan berisi baik agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan agar jangan menjadi tebal, bahkan jika bisa dibikin lebih suram. Pada dasarnya, pendidkan adalah ‘tuntunan’.

b.    Mendidik secara holistik.

Dalam pendidikan secara holistik, harus tercipta budi pekerti yang selaras. Ada olah rasa, olah cipta, olah raga, dan olah karsa. Pendidikan yang holistik akan menciptakan masyarakat yang bijaksana.

c.    Mendidik secara relevan / kontekstual

Dalam kerangka utama filososfi KHD, ada yang disebut dengan kodrat keadaan. Pada kodrat tersebut, dibagi lagi menjadi kodrat alam (sifat, bentuk), dan kodrat zaman (isi, irama).

Kodrat zaman kita, adalah situasi dimana teknologi menjadi sahabat manusia sehari-hari. Kebudayaan saat ini didominasi mesin.

Sebagai seorang pendidik, kita bisa menggunakan analogi Whatsapp. Yakni pentingnya centang dua berwarna biru dalam mentransfer ilmu pada peserta didik. Hal itu ditandai dengan kualitas belajar murid yang meningkat.

Hal penting lain yang harus kita ingat adalah pondasi profil pendidikan pancasila, yakni berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, gotong royong, dan kreatif.

 

Note: Part 2 ada di artikel selanjutnya.